AKU ADALAH SEBUAH CERPEN
ku memang bukan lelaki
yang berlimpah materi , aku hanya sebuah kisah dari kumpulan yang terbuang,
dari kumpulan sajak-sajak lama yang berdebu. Hidupku hanya sepenggal cerpen
yang terus berganti cerita. Terkadang happy
ending dan terkadang sad ending.
Aku hanya ingin kau tahu. Aku ini hanya rakit bambu, aku
hanya perantara bagi kamu. Aku ingin menjadi sebuah kapal pesiar lengkap dengan
segalanya yang bisa mengarungi samudera.Aku ingin menjadi mobil yang bisa
menapaki bumi daratan. Bahkan aku ingin menjadi pesawat terbang yang dapat
melintasi angkasa luas.
Tapi apalah daya, aku hanya sebuah kumpulan bambu tua
yang di sambung dengan tali rafia yang mulai tampak termakan waktu. Dahulu
akulah tempat mu bertumpu dan mengantarkanmu ke tempat nan-indah di seberang.
Dahulu aku tempat mu berpijak dengan canda tawa selalu ku buatmu bahagia dan
menyeberangkanmu dari satu tempat ke tempat lain. Akulah dulu yang melindungi
mu dari terik sang mentari yang membakar tubuh mungil mu itu dan aku bahagia
bila melihat mu bahagia, meskipun tubuhku selalu terhujam jeram yang membuat
tubuhku penuh luka.
Tapi apa kini, hanyalah bekas pijakanmu yang
menyakitkanku. Bekas-bekas tapak kaki mu yang masih tertinggal disini, hanya
menjadikanku kumpulan yang terbuang. Aku hanya sisa-sisa dari kisahmu. Kini ku
kau biarkan melapuk dan memudar bersama waktu yang terus berjalan. Tapi bekas
ini lah yang selalu aku ingat sampai kapan pun.
Aku selalu disini, ketika ku sedang letih menghadapi
hidup yang selalu menggerogoti tubuhku. Memandang nanar mimik awan yang selalu
berubah. Indah sekali rasanya jika berada disini. Ku pejamkan kedua kelopak
mataku, seraya melepaskan semua penat dada yang menyesak ingin keluar.
Hemmm, ku hirup udara di bibir pantai ini. Lega rasanya
bila kembali kesini. Banyak sekali masalah yang ku hadapi, ya tentu saja yang
paling sering dihadapi anak muda zaman sekarang adalah masalah cinta. Menurut
ku cinta itu seperti hantu yang datang dari kegelapan yang selalu menakutkan
bagiku.Tapi itu lah cinta , tanpa cinta hidup ini terasa hambar.
Ahh, berhenti lah berbicara tentang cinta.
Sekitar lima belas menitan aku memejamkan mata , mencari
inspirasi juga untuk karya tulis baruku.
“Maaf mengganggu”,
“ Bolehkan saya duduk disini ?”
Aku terkejut mendengar suara wanita di sebelah ku. Aku
termangu melihat senyumnya. Dalam benak ku, apakah dia orang yang ku kenal.
“Hei, kok kamu malah diam saja sih,”
“Hallo”, dia melambaikan tangannya diwajahku.
“Eh, eh , eh maaf”,dengan nada kebingungan ku coba
mengingat dia kembali.
“Kamu kok melihat aku seperti itu, aku kan mali kalau di
lihatin terus”.
“Hehehehe, maaf-maaf, aku terkejut tiba-tiba ada seorang
wanita di sebelahku”.
“ Iya aku dari tadi lihatin kamu terus. Kamu asik
memejamkan mata sendirian sih si pinggir pantai ini. Ya aku kira kamu pingsan
”.
Mendengar suaranya dan melihat raut wajahnya, dia sepeti
orang yang pernah aku kenal dulu, tapi siapa ya dia ?
“ Kan kamu ngelamun lagi liatin aku. Jadi geer nih akunya ”.
Aku hanya tersenyum kecil dengannya, Dan ku beranikan
diri tuk menanyakan apa yang ada di dalam pikiran ku.
“ Apa aku kenal denganmu, wajah mu tidak asing bagi ku ”.
“ Ya coba tebak siapa aku ”, katanya sambil meledekku.
“ Siapa ? Aku sama sekali tidak ingat”.
“ Ya sudah aku beri kamu petunjuk. Aku ini kan teman kamu
waktu di sekolah dulu. Ingat gak kalau akunyang paling dekat dengan mu dulu ”.
“ Hemmm, aku sedikit amnesia
nih, maklum terlalu banyak yang aku pikirkan saat ini, rutinitas kehidupan
seperti bulldoser yang melindas habis
ingatan ku ”.
“ Iya aku maklumi kok, kita kan sudah lama tidak bertemu
lagi ”.
“ Iya ”,jawab ku dengan senyuman kecil.
“ Aku akan cerita sedikit tentang yang dulu pernah kita
alami. Mungkin dengan cerita ku ini kamu akan ingat siapa aku ”,katanya pada ku
yang sejenak tadi terpaku olehnya.
“ Baiklah aku akan mendengarkanmu”.
“
Dulu aku sang pemimpi, dulu aku sang perindu, dan aku dulu yang sering di
juluki si Alay Stadium 4. Tak ada kata yaang terbenak dalam hidup ku
kecuali kata yang sama. Kata-kata yang selalu merantai dan mencekik leher ku
sehingga aku tidak bisa bernafas. Semua kata itu hanya bisa menghantui, dan
berterbangan ke udara yang menyesakkan ku. Ku coba tutupi mata, telinga dan
tiap lubang yang ada di lekuk tubuh ku dengan tameng yang terbuat dari platina.
Tapi itulah aku, semua kata-kata itu mengetuk-ngetuk gendang telinga ku, masuk
melalui celah pori ku yang mengangah. Tak ada kata yang ku takuti selain kata
itu. Kata itu adalah KESEDIHAN &
KESEPIAN. Tiap kali kata itu datang rasanya tubuh ini bergetar, lidah ini
kelu tak ada lagi yang keluar selain teriakan dari dalam hati. Tapi itu duli
sebelum kau datang dan memberikan ku sebuah arti. Kau pernah bilang padaku
apalah arti sebuah puisi tanpa ada judul, dan kau juga pernah bilang apa
gunanya matahari jika tak ada yang di sinari. Saat kau di sisi ku mulai lah
bisa ku membuka mata perlahan ku melihat satu demi satu dai ribuan bahkan
jutaan warna yang indah”.
Sekitar
satu jam-an dia cerita padaku mulailah perlahankan ku ingat dia,sosok yang dulu
memang pernah hadir dalam diri ku. Apakah mungkin dia ?, dia yang selalu
bersama di sisi ku. Aku sendiri mulai membuka memori lama yang terkunci rapat
di brankas pada lapisan terdalam otak ini.
Tak
terasa terlalu ku khayati kata tiap ceritanya, hingga kini matahari telah
bergeser dari atas kepala menuju sudut lautan, mengadu ke peraduan laut yang
terdesak oleh warna lain yang akan menggantikannya. Kini matahari kelihatan
ranum seperti buah mangga yang sudah matang.
Kini
aku tahu siapa dia, dialah sang rembulan yang selalu menerangi ku. Dia juga
yang selalu menemani ku ketika aku senang dan ketika aku sedih . Kami berdua
selalu mengisi hari dengan berbagai kisah yang kami ukir di setiap
gumpalan-gumpalan awan di langit. Dialah sosok SAHABAT yang ku butuh kan saat
ini.
“
Iya aku tahu siapa kamu saat ini”, dengan senyuman ku berkata padanya.
“
Jadi siapa aku?”,tanya nya.
“
Kau lah SAHABAT ku, sahabat yang selama ini menghilang dari kehidupan ku.
Terima kasih telah kembali kepada ku di saat aku butuhkan mu”.
“
Sekali lagi ku ucapkan terima kasih RERE, kau lah yang ku butuh kan”.
Dengan
senyuman manja yang ia berikan dan dia berkata iya, aku pasti selalu ada di
sini dan takkan pernah pergi lagi.
Seraya langit yang tadinya jingga berubah menjadi gelap,
kami pun pergi beranjak dari tempat duduk di bibir pantai ini yang sedari tadi
kami tempati. Pergi nya sang mentari menandakan bahwa kami juga harus pergi.
Perjalanan kami di iringi dengan suara deruan ombak dan
harumnya aroma air yang menderu. Dan cerita ini berakhir.
Sejujurnya
bukan lah apa yang aku tulis ini pengalaman ku,bukan lah juga isi dari cerita
ini yang menjadi pengalaman ku. Tapi pengalaman terindah yang bisa ku berikan
adalah selembar kertas ini yang ku tulis menjadi sebuah cerita. Cerita yang ku
bayangkan sendiri untuk ku berikan. Tak ada pengalaman yang bisa ku berikan
melainkan sebuah rangkaian kata yang ku rajut bersama dengan apa yang aku
bayangkan. Melalui kertas ini ku goreskan alunan kata yang indah hanya untuk
mu.