Entri Populer

Rabu, 27 Maret 2013

Puisi


Bulan Merah Jambu
Oleh : Egi Novian

Bulan merah jambu duduk dikotamu
Merasuki malam dengan keindahan
Memberi perbedaan diatas persamaan
Keberadaan mu kan semakin nyata

Pejalan merah jambu semakin terlihat jelas
Saat ku ayun sendiri langkah-langkah sepi
Menikmati angin dan menabuh daun-daun
Tubuh ini bergetar saat warna mu menerjang mataku
Ingin rasanya ku terbang dan membelai warnamu
Merantai tubuhmu dengan rangkaian kata dan menjadi cerita
Agar warnamu tak berpaling dariku dan menjauh
Takkan pernah ku dapat yang lainnya
Warna mu adalah kisah yang selama ini ingin kugapai
Membelai lembut dengan sapuan tinta emas diangkasa

Semburat warnamu semakin berbinar
Kan ku temani kau dengan untaian titik terang sebuah kisah
Takkan ku biarkan warnamu memudar cepat
Dan ku janjikan dikotamu selalu terduduk bulan merah jambu

Jumat, 14 Desember 2012

Cara Buat Efek Taburan Bintang Pada Pointer Blog

Hai sobat-sobat blogger. Baiklah pada postingan kali ini saya akan memberikan cara untuk para pemula dalam blogger yang ingin memberikan "Efek Taburan Bintang Pada Pointer Blognya".
Baiklah caranya antara lain :
1. Buka halaman Blogger kamu.
2. Kemudian buka Dashbor Blogger, dan klik Tata Letak.
3. Setelah terbuka, maka sobat sekalian klik Tambah Gadget ( dimana pun kamu meng-klik tanda Tabah Gadget maka hasilnya akan sama saja.
4. Kemudian Klik tanda tambah pada HTML/JavaScript.
5. Kemudian akan mucul kotak dialog, di dalam kotak dialog tersebut ada kotak judul ( tidak diisi pun tidak masalah ), dan kotak content. Pada kotak content masukkan kode dibawah ini dengan cara copy-paste dari artikel ini :
<script src="http://kikiefendiclock.googlecode.com/files/www.kikiyo.co.cc.cursor-bintang-biru.js" type="text/javascript"></script>

6. Setelah itu Klik Save. Dan Simpan Perubahan.

Selasa, 11 Desember 2012

Cerpen Cinta

AKU ADALAH SEBUAH CERPEN
    A

ku memang bukan lelaki yang berlimpah materi , aku hanya sebuah kisah dari kumpulan yang terbuang, dari kumpulan sajak-sajak lama yang berdebu. Hidupku hanya sepenggal cerpen yang terus berganti cerita. Terkadang happy ending dan terkadang sad ending.
            Aku hanya ingin kau tahu. Aku ini hanya rakit bambu, aku hanya perantara bagi kamu. Aku ingin menjadi sebuah kapal pesiar lengkap dengan segalanya yang bisa mengarungi samudera.Aku ingin menjadi mobil yang bisa menapaki bumi daratan. Bahkan aku ingin menjadi pesawat terbang yang dapat melintasi angkasa luas.
            Tapi apalah daya, aku hanya sebuah kumpulan bambu tua yang di sambung dengan tali rafia yang mulai tampak termakan waktu. Dahulu akulah tempat mu bertumpu dan mengantarkanmu ke tempat nan-indah di seberang. Dahulu aku tempat mu berpijak dengan canda tawa selalu ku buatmu bahagia dan menyeberangkanmu dari satu tempat ke tempat lain. Akulah dulu yang melindungi mu dari terik sang mentari yang membakar tubuh mungil mu itu dan aku bahagia bila melihat mu bahagia, meskipun tubuhku selalu terhujam jeram yang membuat tubuhku penuh luka.
            Tapi apa kini, hanyalah bekas pijakanmu yang menyakitkanku. Bekas-bekas tapak kaki mu yang masih tertinggal disini, hanya menjadikanku kumpulan yang terbuang. Aku hanya sisa-sisa dari kisahmu. Kini ku kau biarkan melapuk dan memudar bersama waktu yang terus berjalan. Tapi bekas ini lah yang selalu aku ingat sampai kapan pun.
           
            Aku selalu disini, ketika ku sedang letih menghadapi hidup yang selalu menggerogoti tubuhku. Memandang nanar mimik awan yang selalu berubah. Indah sekali rasanya jika berada disini. Ku pejamkan kedua kelopak mataku, seraya melepaskan semua penat dada yang menyesak ingin keluar.
            Hemmm, ku hirup udara di bibir pantai ini. Lega rasanya bila kembali kesini. Banyak sekali masalah yang ku hadapi, ya tentu saja yang paling sering dihadapi anak muda zaman sekarang adalah masalah cinta. Menurut ku cinta itu seperti hantu yang datang dari kegelapan yang selalu menakutkan bagiku.Tapi itu lah cinta , tanpa cinta hidup ini terasa hambar.
            Ahh, berhenti lah berbicara tentang cinta.
            Sekitar lima belas menitan aku memejamkan mata , mencari inspirasi juga untuk karya tulis baruku.
            “Maaf mengganggu”,
            “ Bolehkan saya duduk disini ?”
            Aku terkejut mendengar suara wanita di sebelah ku. Aku termangu melihat senyumnya. Dalam benak ku, apakah dia orang yang ku kenal.
            “Hei, kok kamu malah diam saja sih,”
            “Hallo”, dia melambaikan tangannya diwajahku.
            “Eh, eh , eh maaf”,dengan nada kebingungan ku coba mengingat dia kembali.
            “Kamu kok melihat aku seperti itu, aku kan mali kalau di lihatin terus”.
            “Hehehehe, maaf-maaf, aku terkejut tiba-tiba ada seorang wanita di sebelahku”.
            “ Iya aku dari tadi lihatin kamu terus. Kamu asik memejamkan mata sendirian sih si pinggir pantai ini. Ya aku kira kamu pingsan ”.
            Mendengar suaranya dan melihat raut wajahnya, dia sepeti orang yang pernah aku kenal dulu, tapi siapa ya dia ?
            “ Kan kamu ngelamun lagi liatin aku. Jadi geer nih akunya ”.
            Aku hanya tersenyum kecil dengannya, Dan ku beranikan diri tuk menanyakan apa yang ada di dalam pikiran ku.
            “ Apa aku kenal denganmu, wajah mu tidak asing bagi ku ”.
            “ Ya coba tebak siapa aku ”, katanya sambil meledekku.
            “ Siapa ? Aku sama sekali tidak ingat”.
            “ Ya sudah aku beri kamu petunjuk. Aku ini kan teman kamu waktu di sekolah dulu. Ingat gak kalau akunyang paling dekat dengan mu dulu ”.
            “ Hemmm, aku sedikit amnesia nih, maklum terlalu banyak yang aku pikirkan saat ini, rutinitas kehidupan seperti bulldoser yang melindas habis ingatan ku ”.
            “ Iya aku maklumi kok, kita kan sudah lama tidak bertemu lagi ”.
            “ Iya ”,jawab ku dengan senyuman kecil.
            “ Aku akan cerita sedikit tentang yang dulu pernah kita alami. Mungkin dengan cerita ku ini kamu akan ingat siapa aku ”,katanya pada ku yang sejenak tadi terpaku olehnya.
            “ Baiklah aku akan mendengarkanmu”.

“ Dulu aku sang pemimpi, dulu aku sang perindu, dan aku dulu yang sering di juluki si Alay Stadium 4. Tak ada kata yaang terbenak dalam hidup ku kecuali kata yang sama. Kata-kata yang selalu merantai dan mencekik leher ku sehingga aku tidak bisa bernafas. Semua kata itu hanya bisa menghantui, dan berterbangan ke udara yang menyesakkan ku. Ku coba tutupi mata, telinga dan tiap lubang yang ada di lekuk tubuh ku dengan tameng yang terbuat dari platina. Tapi itulah aku, semua kata-kata itu mengetuk-ngetuk gendang telinga ku, masuk melalui celah pori ku yang mengangah. Tak ada kata yang ku takuti selain kata itu. Kata itu adalah KESEDIHAN & KESEPIAN. Tiap kali kata itu datang rasanya tubuh ini bergetar, lidah ini kelu tak ada lagi yang keluar selain teriakan dari dalam hati. Tapi itu duli sebelum kau datang dan memberikan ku sebuah arti. Kau pernah bilang padaku apalah arti sebuah puisi tanpa ada judul, dan kau juga pernah bilang apa gunanya matahari jika tak ada yang di sinari. Saat kau di sisi ku mulai lah bisa ku membuka mata perlahan ku melihat satu demi satu dai ribuan bahkan jutaan warna yang indah”.
Sekitar satu jam-an dia cerita padaku mulailah perlahankan ku ingat dia,sosok yang dulu memang pernah hadir dalam diri ku. Apakah mungkin dia ?, dia yang selalu bersama di sisi ku. Aku sendiri mulai membuka memori lama yang terkunci rapat di brankas pada lapisan terdalam otak ini.
Tak terasa terlalu ku khayati kata tiap ceritanya, hingga kini matahari telah bergeser dari atas kepala menuju sudut lautan, mengadu ke peraduan laut yang terdesak oleh warna lain yang akan menggantikannya. Kini matahari kelihatan ranum seperti buah mangga yang sudah matang.
Kini aku tahu siapa dia, dialah sang rembulan yang selalu menerangi ku. Dia juga yang selalu menemani ku ketika aku senang dan ketika aku sedih . Kami berdua selalu mengisi hari dengan berbagai kisah yang kami ukir di setiap gumpalan-gumpalan awan di langit. Dialah sosok SAHABAT yang ku butuh kan saat ini.
“ Iya aku tahu siapa kamu saat ini”, dengan senyuman ku berkata padanya.
“ Jadi siapa aku?”,tanya nya.
“ Kau lah SAHABAT ku, sahabat yang selama ini menghilang dari kehidupan ku. Terima kasih telah kembali kepada ku di saat aku butuhkan mu”.
“ Sekali lagi ku ucapkan terima kasih RERE, kau lah yang ku butuh kan”.
Dengan senyuman manja yang ia berikan dan dia berkata iya, aku pasti selalu ada di sini dan takkan pernah pergi lagi.
            Seraya langit yang tadinya jingga berubah menjadi gelap, kami pun pergi beranjak dari tempat duduk di bibir pantai ini yang sedari tadi kami tempati. Pergi nya sang mentari menandakan bahwa kami juga harus pergi.
            Perjalanan kami di iringi dengan suara deruan ombak dan harumnya aroma air yang menderu. Dan cerita ini berakhir.


Sejujurnya bukan lah apa yang aku tulis ini pengalaman ku,bukan lah juga isi dari cerita ini yang menjadi pengalaman ku. Tapi pengalaman terindah yang bisa ku berikan adalah selembar kertas ini yang ku tulis menjadi sebuah cerita. Cerita yang ku bayangkan sendiri untuk ku berikan. Tak ada pengalaman yang bisa ku berikan melainkan sebuah rangkaian kata yang ku rajut bersama dengan apa yang aku bayangkan. Melalui kertas ini ku goreskan alunan kata yang indah hanya untuk mu.